Gunung Semeru Kembali Erupsi: Mengulik Mitos Paku Bumi hingga Sejarah Letusannya
Gunung Semeru yang berlokasi di perbatasan Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Selasa (14/4/2026) pagi, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini meluncurkan Awan Panas Guguran (APG) sejauh 3 kilometer menuju Besuk Kobokan, disertai kolom asap setinggi 1.500 meter.
Meski tidak ada laporan kerusakan langsung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang tetap menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC). Langkah ini diambil guna mengantisipasi bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin, mengingat curah hujan di kawasan lereng saat ini sedang tinggi.
Mitos “Paku Bumi” Tanah Jawa
Di balik statusnya yang sangat aktif, Gunung Semeru memiliki akar spiritual yang dalam. Berdasarkan kitab kuno Tantu Panggelaran dari abad ke-16, Semeru diyakini sebagai potongan Gunung Meru dari India. Gunung ini dipindahkan oleh Dewa Brahma (menjelma sebagai ular) dan Dewa Wisnu (menjelma sebagai kura-kura raksasa) untuk dijadikan “paku bumi”.
Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan Pulau Jawa yang konon dulunya terombang-ambing di lautan. Puncak tertingginya, yakni Mahameru, juga dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Dewa Shiwa.Sejarah Pendakian dan Jejak Masa Lalu
Sebagai gunung tertinggi ketujuh di Indonesia (3.676 mdpl), pesona Semeru telah memikat banyak pendaki sejak abad ke-19.
- 1838: Pendakian pertama yang tercatat dalam sejarah dilakukan oleh ahli geologi asal Belanda, GF Clingnett.
- 1969: Aktivis legendaris Soe Hok Gie dan rekannya, Idhan Lubis, meninggal dunia di gunung ini akibat menghirup gas beracun.
- Jejak Purbakala: Di area lerengnya, terdapat situs bersejarah seperti Recopodo dan Prasasti Ranu Kumbolo (abad 12-13 Masehi) yang mengisahkan perjalanan Raja Kameswara dari Kediri.
Riwayat Erupsi Semeru
Sebagai gunung api strato, Semeru memiliki rekam jejak letusan yang panjang. Erupsi pertamanya tercatat pada 8 November 1818. Setelah itu, sejumlah letusan besar bersejarah pernah terjadi, mulai dari Bencana Lumajang (1909), erupsi mematikan tahun 1981, hingga letusan awal tahun 2024 lalu yang sempat menyebabkan penutupan Bandara Abdulrachman Saleh di Malang.
Ahli vulkanologi mengingatkan bahwa gunung ini menyimpan dua potensi bahaya utama: material awan panas yang suhunya bisa mencapai 600°C (bahaya primer) dan aliran lahar dingin di jalur sungai (bahaya sekunder). Oleh karena itu, masyarakat di sekitar lereng Semeru diimbau untuk selalu waspada dan memantau arahan dari pos pengamatan.

